Kamis, 22 Januari 2015

Contoh Makalah Filsafat Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak bisa terlepas dari pembicaraan filosofi secara umum. Berpikir filosof merupakan hasil usaha manusia yang berkesinambungan diseluruh jagad raya ini. Akan tetapi, berpikir filsafat dalam arti berpikir bebas dan mendalam atau radikal yang tidak di pengaruhi oleh dogmatis dan tradisi disponsor oleh filosof-filosof Yunani.[1]
Filosof muncul pertama kali di Yunani kira-kira abad ke 7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan disekitar mereka. Orang yang pertama kali mengunakan akal secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (624-546 SM), dia disebut dengan bapak filosof.
Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat tentang asal mula filsafat, merupakan gabungan dari keduannya. Filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari filsafat Yunanai sebagai awal munculnya sejarah berkembangnya filsafat.
Tokoh filsafat Islam maupun filsafat Barat memiliki peran besar dalam mempengearuhi peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya. Maka perlu untuk mempelajari filsafat Islam dan Barat serta membandingkannya.[2]

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengertian filsafat, filsafat Islam, dan filsafat Barat?
2.      Bagaimana perbandingan filsafat Islam dan filsafat Barat?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Filsafat merupakan kata majemuk yang berasal dari Yunani, yaitu philosophia  dan philoshopos, berarti cinta, sedangkan sophia atau sophos, berarti pengetahuan atau kebijaksanaan. Jadi secara sederhana filsafat adalah cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Berpikir filsafat mengandung ciri rasional, sistematis, universal, menyeluruh serta mendasar atau radikal dalam mencari hakikat sesuatu.

Filsafat Islam merupaka perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Menurut Ibrahim Madkur, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, serta agama dan filsafat.[3] Ciri-ciri filsafat Islam meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.      Ajarannya berasal adari nabi Muhammad SAW.
2.      Pemikirannya bersifat teosentris yaitu melihat manusia sebagai wujud yang memiliki ruh dan              fisik.
3.      Kebenarannya mutlak serta terdapatnya kesempurnaan.

Sedangkan filsafat Barat adalah filsafat yang berkembang  dari tradisi filsafat orang Yunani kuno, ilmu yang biasa dipelajari oleh orang-orang Eropa dan jajahannya.[4] Ciri-ciri filsafat Barat meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.      Berasal dari Yunani dan Romawi.
2.      Bersifat humanistik (melihat manusia sebagai sosok yang manusiawi dan sebagai wujud yang               memiliki rasio).
3.      Karena bersifat humanistik maka kebenarannya bersifat nisbi.
4.      Karena bersifat nisbi, maka penerapan dalam masyarakat susah dilakukan.

       B.     Perbandingan Filsafat Islam dan Filsafat Barat

Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat tentang asal mula filsafat, merupakan gabungan dari keduannya.

Filsafat Barat merupakan hasil pemikiran radikal oleh para filsuf Barat sejak abad pertengahan hingga abad modern. Sedangkan filsafat Islam adalah berpikir bebas, radikal  dan berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak, dan karakter yang menyelamatkan dan kedamaian hati.
Perjalanan filsafat Barat dimulai dari masa Yunani kuno, yang terfokus pada pemikiran asal kejadian alam secara rasional, segala sesuatu atas dasar logika. Kemudian masa abad pertengahan filsafat berubah arah menjadi bersifat teosentrik, yaitu segala kebenaran ukuran ketaatan pada gereja, maka filsufnya banyak berasal dari kalangan pendeta.

Pada perjalanan berikutnya para pendeta yang dogmatis itu ditinggalkan para ilmuwan yang kemudian beralih pada pemikiran yang bercorak bebas, radikal, dan rasional yang relistis serta menekankan pada pengalaman dalam memperoleh pengetahuan.

Filsafat Islam merupakan segala bentuk pemikiran muslim yang mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal yang berlandaskan wahyu. Filsafat Islam merupakan pengembangna dari filsafat Plato dan Aristoteles yang dilandasi dengan ajaran Islam dan memadukan antara filsafat dan agama, serta bercirikan religius. Filsafat ini menggunakan akal dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara mendalam selama tidak bertentangan dengan kitab suci dan sunnah Rasul.
Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu, pembidangan ini menyangkut hal-hal yang besifat khusus dari sebuah filsafat  antara lain:



1.      Metafisika
Bagian dari filsafat Barat yang mengkaji hakikat segala yang ada, dan keberadaan (eksistensi) secara umum yang dikaji dalam ontologi. Serta hakikat manusia dan alam dibahas dalam kosmologi.

2.      Epistimologi
Bagian dari filsafat Barat yang mengkaji tentang hakikat manusia dan wilayah pengetahuan, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

3.      Aksiologi
Bagian dari filsafat Barat yang membahas nilai dan norma yang berlaku pada kehidupan manusia, dari sini lahir dua filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yaitu etika dan estetika.

4.      Etika (filsafat moral)
Bagian dari filsafat Barat yang membahas bagaimana  seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui.

5.      Estetika
Bagian dari filsafat Barat yang membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan sehingga muncul berbagai macam teori mengenai kesenian dari berbagai macam hasil budaya.

Sedangkan karakteristik Islam secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut.

1.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas oleh para filsuf Yunani, seperti ketuhanan, alam, dan roh. Akan tetapi cara penyelesaiannya berbeda. Para filosof Islam mengembangkan  dan menambahkan hasil pemikirannya sehingga jadi lebih sempurna dan disempurnakan lagi oleh generasi sesudahnya.

2.      Filsafat Islam membahas tentang masalah yang belum dibahas filsafat sebelumnya, seperti filsafat kenabian.

3.      Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan filsafat , akidah dan hikmah, serta antara wahyu dan akal.

4.      Filosof muslim dalam pemikirannya bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio digunakan secara bebas dan radikal namun masih terkendali oleh wahyu yang merupakan pangkal dari agama Islam.

5.      Filosof muslim boleh menggunakan akal untuk mengembangkan buah pikiran dalam menggali ilmu pengetahuan apa saja secara mendalam selama tidak bertentangan dengan Alquran.

Dalam keadaan seperti di atas timbul dan berkembangnya filsafat Islam di bawah naungan kegamaan yang tidak kurang teliti dan kecermatannya dalam menyelesaikan masalah bila dibandingkan dengan filsafat lain.[5] Adapun perbedaan dan persamaan filsafat Islam dengan filsafat lain meliputi:

1.      Persamaan
a.       Dilihat dari sisi materi yang dibicarakan  filsafat Islam diantaranya sama dengan meteri yang dibicarakan dengan filsafat Yunani.
b.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah dibahas filasafat Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam, dan roh.

2.      Perbedaan
a.       Dalam masalah ketuhanan, filsafat Islam tidak hanya membahas adanya Tuhan, tetapi berkaitan dengan sifat-sifat dan keesaan-Nya, serta qadha dan qadhar yang tidak ada dalam filsafat Yunani.
b.      Para filsuf Islam menggunaka Alquran dan hadits sebagai landasan berpikir, sedangkan filsuf Barat menggunakn rasio atau akal.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kita telah dapat membuktikan keluasan dan kedalaman pemikiran filsafat Islam. Sebagaimana filsafat lain, filsafat Islam memiliki kedudukan yag amat penting dalam dunia pemikiran filsafat. Filsafat Islam merupakan segala bentuk pemikiran muslim yang mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal yang berlandaskan wahyu. Sedangkan Sedangkan filsafat Barat adalah filsafat yang berkembang  dari tradisi filsafat orang Yunani kuno, ilmu yang biasa dipelajari oleh orang-orang Eropa dan jajahannya.

Perbandingan antara filsafat Islam dan Barat dapat dilihat dari sisi materi yang dibahas dalam masing-masing filsafat tersebut. Dari sisi materi, filsafat Islam memiliki materi yang sama dengan materi-materi yang dibicararakan dalam filsafat Yunani. Akan tetapi filsafat Islam memiliki cara penyelesaian yang berbeda dalam membahas materi-materi tersebut.

B.     Saran
Demikian yang dapat kami sajikan dalam makalah ini. Mungkin masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Kami membuka lebar pintu kritik dan saran bagi yang berkenan, untuk pembenahan makalah ini. Sehingga kesalahan yang ada dapat dibenahi, serta menjadi pelajaran untuk pembuatan makalah yang lebih sempurna lagi.

Kesalahan dalam belajar adalah sesuatu yang wajar dan maklum. Tetapi perlu adanya perbaikan sehingga kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi semua yang berkenan menelaah tulisan kami ini. Sekian, terima kasih.


[1] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm1.
[2] Pais News Nusantar, http:// paisnews.blogspot.com/2009/01/ Perbandingan  Filsafat Barat dan Islam.html, diaskes pada: 4 April 2010, pukul 19.30
[3] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm.4
[4] Wikipedia Bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat, Filsafat Islam,Diaskes pada: 4 April 2010, pukul 19.30.
[5] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm.15.
DIPOSKAN OLEH UCANG ET DI 4:14 PM
LABEL: CONTOH MAKALAH

Prinsip Prinsip dan Fungsi Evaluasa

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses penting yang harus dijalani seseorang dalam hidupnya. Dengan pendidikan orang dapat menjadi lebih berarti. Pendidikan juga membantu sesorang dalam menentukan arah hidupnya. Bagi yang ingin menjadi seorang pendidik maka menempuh pendidikan di jurusan tarbiyah. Bagi yang ingin ahli di bidang komunikasi, maka dapat menempuh pendidikan di jalur yang sesuai dengan jurusannyatersebut.
Pendidikan di Indonesia sudah berjalan sekian lama. Berbagai kurikulum telah bergantian digunakan. Dalam penyelenggaraan pendidikan, negara kita masih memerlukan banyak perbaikan. Hal ini dapat terlihat dari hasil evaluasi pendidikan. Dari evaluasi akan terlihat kelebihan dan kekurangan dari sebuah proses penyelenggaraan pendidikan.
Selanjutnya, disini akan kami mencoba memaparkan materi tentang bagaimana prinsip-prinsip dari sebuah evaluasi pendidikan. Selain itu, kami juga akan menjelaskan mengenai fungsi-fungsi daripada evaluasi itu sendiri. Dengan kita mengetahui prinsip serta fungsi dari evaluasi, maka kita dapat melaksanakan evaluasi serta menggunakan hasil dari kegiatan evaluasi pendidikan.

      B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana prinsip-prinsip evaluasi ?
2.      Apa saja fungsi evaluasi ?


BAB II
PEMBAHASAN
Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian (value judgement), Karena itu dalam evaluasi diperlukan prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih efektif.[1]

A.    Prinsip-prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi. Betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan sempurnanya teknik evaluasi diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya maka hasil evaluasi pun akan kurang dari yang diharapkan. Prinsip-prinsip termaksu adalah sebagai berikut:[2]

1.    Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran disamping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. Tujuan instruksional, materi dan metode pengajaran serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.

2.    Keterlibatan Siswa
Prinsip ini berkatan erat dengan metode belajar CBSA (cara Belajar Siswa Aktif) yang menunutut ketrelibatan siswa secara aktif, siswa mutlak. Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi. Dengan demikian evaluasi siswa merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang ingin dihindari.penyajian evaluasi oleh guru merupakan upaya guru untuk memenuhi kebutuhan siswa akan informasi mengenai kemajuannya dalam program belajar-mengajar. Siswa akan merasa kecewa apabila usahanya tidak dievaluasi.

3.    Koherensi
Dengan prinsip koherensi dmaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur. Tidak dapat dibenarkan menyusun alat evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yang mengukur bahan yang belum disajikan dalam kegiatan belajar-megajar. Demikian pula tidak diterima apabila alat evaluasi berisi butir yang tidak berkaitan dengan bidang kemampuan yang hendak diukur.

4.    Pedagogis
Disamping sebagai alat penilai hasil/pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai ganjaran (reward) yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang tidak / kurang berhasil.

5.    Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentigan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak termaksud antara lain orang tua, calon majikan, masyarakat, masyarakat lingkungan pada umumnya, dan lembaga pendidikan sendiri. Pihak-pihak ini perlu mengetahui keadaan kemajuan belajar siswa agar dapat dipertimbangkan pemanfaatannya.[3]

B.     Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk dapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai samapi di mana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan. Dengan demikian dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi evaluasi itu dalam proses belajar-mengajar.

Dengan mengetahui manfaat evaluasi ditinjau dari berbagai segi alam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi ada bebrapa hal:

1.    Evaluasi berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a.    Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
b.    Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya.
c.    Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d.   Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.

2.    Evaluasi berfungsi diagnostic
Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenui persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musyabab  kelemahan itu. Jadi, dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara mengatasi.

3.    Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang kini banyak di populerkan di Negara barat, adalah sistem belajar mandiri. Belejara sendiri dapat dilakuakn dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sitem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemempuan individual.setiap siswa sejak lahirnya membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesusikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali diaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

4.    Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan
Fungsi keempat dari eveluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor yaitu factor guru, metode mengajar, kuruikulum, sarana dan sistem kurikulum.[4]

Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi raport atau Surat Tanda Tamat Belajar, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).

2.      Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan, materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi.

BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan

Prinsip-prinsip Evaluasi
1.    Keterpaduan
2.    Keterlibatan Siswa
3.    Koherensi
4.    Pedagogis
5.    Akuntabilitas

Fungsi Evaluasi
1.      Evaluasi berfungsi selektif
2.      Evaluasi berfungsi diagnostic
3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
4.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan

b.      Saran
Demikian pembahasan kami mengenai prinsip-prinsip dan fungsi evaluasi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, serta bagi para pembaca pada umumnya. Meskipun sederhana, kami berharap tulisan ini dapat memberikan sedikit sumbangan bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Apabila para pembaca menemukan kesalahan pada tulisan kami ini, mohon kesediaannya untuk memberitahukan kepada kami untuk dibenahi. Sehingga tulisan ini layak dijadikan rujukan, sumber ilmu pengetahuan. Dan tidak lupa kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga tulisan sederhana ini dapat terwujud. Semoga Allah senantiasa meridloi setiap apa yang kita perbuat. Amien.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara: Jakarta, 1995.
Daryanto, Evaluasi Pendidikan Rineka Cipta: Jakarta, 2008.
Prinsip-Prinsip Evaluasi Dalam Pembelajaran, http://wakhinuddin.wordpress.com /2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/ diakses tanggal 28 Oktober 2010
Silverius, Suke, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Grasindo: Jakarta, 1991.


[1] Prinsip-Prinsip Evaluasi Dalam Pembelajaran, http://wakhinuddin.wordpress.com/2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/ diakses tanggal 28 Oktober 2010
[2] Daryanto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 19.
[3] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik,(Jakarta: Grasindo, 1991), 11-12
[4] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 11.
DIPOSKAN OLEH UCANG ET DI 1:18 AM
LABEL: CONTOH MAKALAH