Kamis, 22 Januari 2015

Contoh Makalah Filsafat Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak bisa terlepas dari pembicaraan filosofi secara umum. Berpikir filosof merupakan hasil usaha manusia yang berkesinambungan diseluruh jagad raya ini. Akan tetapi, berpikir filsafat dalam arti berpikir bebas dan mendalam atau radikal yang tidak di pengaruhi oleh dogmatis dan tradisi disponsor oleh filosof-filosof Yunani.[1]
Filosof muncul pertama kali di Yunani kira-kira abad ke 7 SM. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan disekitar mereka. Orang yang pertama kali mengunakan akal secara serius adalah orang Yunani yang bernama Thales (624-546 SM), dia disebut dengan bapak filosof.
Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat tentang asal mula filsafat, merupakan gabungan dari keduannya. Filsafat Islam tidak dapat dipisahkan dari filsafat Yunanai sebagai awal munculnya sejarah berkembangnya filsafat.
Tokoh filsafat Islam maupun filsafat Barat memiliki peran besar dalam mempengearuhi peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya. Maka perlu untuk mempelajari filsafat Islam dan Barat serta membandingkannya.[2]

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengertian filsafat, filsafat Islam, dan filsafat Barat?
2.      Bagaimana perbandingan filsafat Islam dan filsafat Barat?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Filsafat merupakan kata majemuk yang berasal dari Yunani, yaitu philosophia  dan philoshopos, berarti cinta, sedangkan sophia atau sophos, berarti pengetahuan atau kebijaksanaan. Jadi secara sederhana filsafat adalah cinta pada pengetahuan atau kebijaksanaan. Berpikir filsafat mengandung ciri rasional, sistematis, universal, menyeluruh serta mendasar atau radikal dalam mencari hakikat sesuatu.

Filsafat Islam merupaka perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ketuhanan, kenabian, manusia dan alam semesta yang disinari ajaran Islam. Menurut Ibrahim Madkur, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, serta agama dan filsafat.[3] Ciri-ciri filsafat Islam meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.      Ajarannya berasal adari nabi Muhammad SAW.
2.      Pemikirannya bersifat teosentris yaitu melihat manusia sebagai wujud yang memiliki ruh dan              fisik.
3.      Kebenarannya mutlak serta terdapatnya kesempurnaan.

Sedangkan filsafat Barat adalah filsafat yang berkembang  dari tradisi filsafat orang Yunani kuno, ilmu yang biasa dipelajari oleh orang-orang Eropa dan jajahannya.[4] Ciri-ciri filsafat Barat meliputi hal-hal sebagai berikut:

1.      Berasal dari Yunani dan Romawi.
2.      Bersifat humanistik (melihat manusia sebagai sosok yang manusiawi dan sebagai wujud yang               memiliki rasio).
3.      Karena bersifat humanistik maka kebenarannya bersifat nisbi.
4.      Karena bersifat nisbi, maka penerapan dalam masyarakat susah dilakukan.

       B.     Perbandingan Filsafat Islam dan Filsafat Barat

Banyak pendapat yang mengemukakan bahwa filsafat lahir dari Yunani, namun ada juga yang mengatakan bahwa filsafat dimulai dari Islam. Ada lagi yang berpendapat tentang asal mula filsafat, merupakan gabungan dari keduannya.

Filsafat Barat merupakan hasil pemikiran radikal oleh para filsuf Barat sejak abad pertengahan hingga abad modern. Sedangkan filsafat Islam adalah berpikir bebas, radikal  dan berada pada taraf makna yang mempunyai sifat, corak, dan karakter yang menyelamatkan dan kedamaian hati.
Perjalanan filsafat Barat dimulai dari masa Yunani kuno, yang terfokus pada pemikiran asal kejadian alam secara rasional, segala sesuatu atas dasar logika. Kemudian masa abad pertengahan filsafat berubah arah menjadi bersifat teosentrik, yaitu segala kebenaran ukuran ketaatan pada gereja, maka filsufnya banyak berasal dari kalangan pendeta.

Pada perjalanan berikutnya para pendeta yang dogmatis itu ditinggalkan para ilmuwan yang kemudian beralih pada pemikiran yang bercorak bebas, radikal, dan rasional yang relistis serta menekankan pada pengalaman dalam memperoleh pengetahuan.

Filsafat Islam merupakan segala bentuk pemikiran muslim yang mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal yang berlandaskan wahyu. Filsafat Islam merupakan pengembangna dari filsafat Plato dan Aristoteles yang dilandasi dengan ajaran Islam dan memadukan antara filsafat dan agama, serta bercirikan religius. Filsafat ini menggunakan akal dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan secara mendalam selama tidak bertentangan dengan kitab suci dan sunnah Rasul.
Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu, pembidangan ini menyangkut hal-hal yang besifat khusus dari sebuah filsafat  antara lain:



1.      Metafisika
Bagian dari filsafat Barat yang mengkaji hakikat segala yang ada, dan keberadaan (eksistensi) secara umum yang dikaji dalam ontologi. Serta hakikat manusia dan alam dibahas dalam kosmologi.

2.      Epistimologi
Bagian dari filsafat Barat yang mengkaji tentang hakikat manusia dan wilayah pengetahuan, seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

3.      Aksiologi
Bagian dari filsafat Barat yang membahas nilai dan norma yang berlaku pada kehidupan manusia, dari sini lahir dua filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia yaitu etika dan estetika.

4.      Etika (filsafat moral)
Bagian dari filsafat Barat yang membahas bagaimana  seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui.

5.      Estetika
Bagian dari filsafat Barat yang membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan sehingga muncul berbagai macam teori mengenai kesenian dari berbagai macam hasil budaya.

Sedangkan karakteristik Islam secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut.

1.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas oleh para filsuf Yunani, seperti ketuhanan, alam, dan roh. Akan tetapi cara penyelesaiannya berbeda. Para filosof Islam mengembangkan  dan menambahkan hasil pemikirannya sehingga jadi lebih sempurna dan disempurnakan lagi oleh generasi sesudahnya.

2.      Filsafat Islam membahas tentang masalah yang belum dibahas filsafat sebelumnya, seperti filsafat kenabian.

3.      Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan filsafat , akidah dan hikmah, serta antara wahyu dan akal.

4.      Filosof muslim dalam pemikirannya bersandar kepada Tuhan, meskipun rasio digunakan secara bebas dan radikal namun masih terkendali oleh wahyu yang merupakan pangkal dari agama Islam.

5.      Filosof muslim boleh menggunakan akal untuk mengembangkan buah pikiran dalam menggali ilmu pengetahuan apa saja secara mendalam selama tidak bertentangan dengan Alquran.

Dalam keadaan seperti di atas timbul dan berkembangnya filsafat Islam di bawah naungan kegamaan yang tidak kurang teliti dan kecermatannya dalam menyelesaikan masalah bila dibandingkan dengan filsafat lain.[5] Adapun perbedaan dan persamaan filsafat Islam dengan filsafat lain meliputi:

1.      Persamaan
a.       Dilihat dari sisi materi yang dibicarakan  filsafat Islam diantaranya sama dengan meteri yang dibicarakan dengan filsafat Yunani.
b.      Filsafat Islam membahas masalah yang sudah dibahas filasafat Yunani dan lainnya, seperti ketuhanan, alam, dan roh.

2.      Perbedaan
a.       Dalam masalah ketuhanan, filsafat Islam tidak hanya membahas adanya Tuhan, tetapi berkaitan dengan sifat-sifat dan keesaan-Nya, serta qadha dan qadhar yang tidak ada dalam filsafat Yunani.
b.      Para filsuf Islam menggunaka Alquran dan hadits sebagai landasan berpikir, sedangkan filsuf Barat menggunakn rasio atau akal.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, kita telah dapat membuktikan keluasan dan kedalaman pemikiran filsafat Islam. Sebagaimana filsafat lain, filsafat Islam memiliki kedudukan yag amat penting dalam dunia pemikiran filsafat. Filsafat Islam merupakan segala bentuk pemikiran muslim yang mendalam secara teoritis maupun empiris, bersifat universal yang berlandaskan wahyu. Sedangkan Sedangkan filsafat Barat adalah filsafat yang berkembang  dari tradisi filsafat orang Yunani kuno, ilmu yang biasa dipelajari oleh orang-orang Eropa dan jajahannya.

Perbandingan antara filsafat Islam dan Barat dapat dilihat dari sisi materi yang dibahas dalam masing-masing filsafat tersebut. Dari sisi materi, filsafat Islam memiliki materi yang sama dengan materi-materi yang dibicararakan dalam filsafat Yunani. Akan tetapi filsafat Islam memiliki cara penyelesaian yang berbeda dalam membahas materi-materi tersebut.

B.     Saran
Demikian yang dapat kami sajikan dalam makalah ini. Mungkin masih banyak kekurangan yang perlu dibenahi. Kami membuka lebar pintu kritik dan saran bagi yang berkenan, untuk pembenahan makalah ini. Sehingga kesalahan yang ada dapat dibenahi, serta menjadi pelajaran untuk pembuatan makalah yang lebih sempurna lagi.

Kesalahan dalam belajar adalah sesuatu yang wajar dan maklum. Tetapi perlu adanya perbaikan sehingga kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi semua yang berkenan menelaah tulisan kami ini. Sekian, terima kasih.


[1] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm1.
[2] Pais News Nusantar, http:// paisnews.blogspot.com/2009/01/ Perbandingan  Filsafat Barat dan Islam.html, diaskes pada: 4 April 2010, pukul 19.30
[3] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm.4
[4] Wikipedia Bahasa Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/filsafat, Filsafat Islam,Diaskes pada: 4 April 2010, pukul 19.30.
[5] Sirajudin Zar, Filosof Islam:Filosof dan Filsafatnya , ( Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2004).hlm.15.
DIPOSKAN OLEH UCANG ET DI 4:14 PM
LABEL: CONTOH MAKALAH

Prinsip Prinsip dan Fungsi Evaluasa

BAB I
PENDAHULUAN
     A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu proses penting yang harus dijalani seseorang dalam hidupnya. Dengan pendidikan orang dapat menjadi lebih berarti. Pendidikan juga membantu sesorang dalam menentukan arah hidupnya. Bagi yang ingin menjadi seorang pendidik maka menempuh pendidikan di jurusan tarbiyah. Bagi yang ingin ahli di bidang komunikasi, maka dapat menempuh pendidikan di jalur yang sesuai dengan jurusannyatersebut.
Pendidikan di Indonesia sudah berjalan sekian lama. Berbagai kurikulum telah bergantian digunakan. Dalam penyelenggaraan pendidikan, negara kita masih memerlukan banyak perbaikan. Hal ini dapat terlihat dari hasil evaluasi pendidikan. Dari evaluasi akan terlihat kelebihan dan kekurangan dari sebuah proses penyelenggaraan pendidikan.
Selanjutnya, disini akan kami mencoba memaparkan materi tentang bagaimana prinsip-prinsip dari sebuah evaluasi pendidikan. Selain itu, kami juga akan menjelaskan mengenai fungsi-fungsi daripada evaluasi itu sendiri. Dengan kita mengetahui prinsip serta fungsi dari evaluasi, maka kita dapat melaksanakan evaluasi serta menggunakan hasil dari kegiatan evaluasi pendidikan.

      B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana prinsip-prinsip evaluasi ?
2.      Apa saja fungsi evaluasi ?


BAB II
PEMBAHASAN
Evaluasi adalah suatu proses, yakni proses menentukan sampai berapa jauh kemampuan yang dapat dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan tersebut sebelumnya sudah ditetapkan secara operational. Selanjutnya juga ditetapkan patokan pengukuran hingga dapat diperoleh penilaian (value judgement), Karena itu dalam evaluasi diperlukan prinsip-prinsip sebagai petunjuk agar dalam pelaksanaan evaluasi dapat lebih efektif.[1]

A.    Prinsip-prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi. Betapapun baiknya prosedur evaluasi diikuti dan sempurnanya teknik evaluasi diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya maka hasil evaluasi pun akan kurang dari yang diharapkan. Prinsip-prinsip termaksu adalah sebagai berikut:[2]

1.    Keterpaduan
Evaluasi merupakan komponen integral dalam program pengajaran disamping tujuan instruksional dan materi serta metode pengajaran. Tujuan instruksional, materi dan metode pengajaran serta evaluasi merupakan tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan. Karena itu, perencanaan evaluasi harus sudah ditetapkan pada waktu menyusun satuan pengajaran sehingga dapat disesuaikan secara harmonis dengan tujuan instruksional dan materi pengajaran yang hendak disajikan.

2.    Keterlibatan Siswa
Prinsip ini berkatan erat dengan metode belajar CBSA (cara Belajar Siswa Aktif) yang menunutut ketrelibatan siswa secara aktif, siswa mutlak. Untuk dapat mengetahui sejauh mana siswa berhasil dalam kegiatan belajar-mengajar yang dijalaninya secara aktif, siswa membutuhkan evaluasi. Dengan demikian evaluasi siswa merupakan kebutuhan, bukan sesuatu yang ingin dihindari.penyajian evaluasi oleh guru merupakan upaya guru untuk memenuhi kebutuhan siswa akan informasi mengenai kemajuannya dalam program belajar-mengajar. Siswa akan merasa kecewa apabila usahanya tidak dievaluasi.

3.    Koherensi
Dengan prinsip koherensi dmaksudkan evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur. Tidak dapat dibenarkan menyusun alat evaluasi hasil belajar atau evaluasi pencapaian belajar yang mengukur bahan yang belum disajikan dalam kegiatan belajar-megajar. Demikian pula tidak diterima apabila alat evaluasi berisi butir yang tidak berkaitan dengan bidang kemampuan yang hendak diukur.

4.    Pedagogis
Disamping sebagai alat penilai hasil/pencapaian belajar, evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi hendaknya dirasakan sebagai ganjaran (reward) yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang tidak / kurang berhasil.

5.    Akuntabilitas
Sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentigan dengan pendidikan sebagai laporan pertanggungjawaban (accountability). Pihak-pihak termaksud antara lain orang tua, calon majikan, masyarakat, masyarakat lingkungan pada umumnya, dan lembaga pendidikan sendiri. Pihak-pihak ini perlu mengetahui keadaan kemajuan belajar siswa agar dapat dipertimbangkan pemanfaatannya.[3]

B.     Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk dapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai samapi di mana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan. Dengan demikian dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi evaluasi itu dalam proses belajar-mengajar.

Dengan mengetahui manfaat evaluasi ditinjau dari berbagai segi alam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa fungsi evaluasi ada bebrapa hal:

1.    Evaluasi berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a.    Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.
b.    Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya.
c.    Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d.   Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.

2.    Evaluasi berfungsi diagnostic
Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenui persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab musyabab  kelemahan itu. Jadi, dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan lebih mudah dicari cara mengatasi.

3.    Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Sistem yang kini banyak di populerkan di Negara barat, adalah sistem belajar mandiri. Belejara sendiri dapat dilakuakn dengan cara mempelajari sebuah paket belajar, baik itu berbentuk modul maupun paket belajar yang lain. Sebagai alasan dari timbulnya sitem ini adalah adanya pengakuan yang besar terhadap kemempuan individual.setiap siswa sejak lahirnya membawa bakat sendiri-sendiri sehingga pelajaran akan lebih efektif apabila disesusikan dengan pembawaan yang ada. Akan tetapi disebabkan keterbatasan sarana dan tenaga, pendidikan, yang bersifat individual kadang-kadang sukar sekali diaksanakan. Pendekatan yang lebih bersifat melayani perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu evaluasi. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

4.    Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan
Fungsi keempat dari eveluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa factor yaitu factor guru, metode mengajar, kuruikulum, sarana dan sistem kurikulum.[4]

Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1.      Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi raport atau Surat Tanda Tamat Belajar, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).

2.      Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan, materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar mengajar, alat dan sumber pelajaran, dan prosedur serta alat evaluasi.

BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan

Prinsip-prinsip Evaluasi
1.    Keterpaduan
2.    Keterlibatan Siswa
3.    Koherensi
4.    Pedagogis
5.    Akuntabilitas

Fungsi Evaluasi
1.      Evaluasi berfungsi selektif
2.      Evaluasi berfungsi diagnostic
3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
4.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan

b.      Saran
Demikian pembahasan kami mengenai prinsip-prinsip dan fungsi evaluasi. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, serta bagi para pembaca pada umumnya. Meskipun sederhana, kami berharap tulisan ini dapat memberikan sedikit sumbangan bagi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Apabila para pembaca menemukan kesalahan pada tulisan kami ini, mohon kesediaannya untuk memberitahukan kepada kami untuk dibenahi. Sehingga tulisan ini layak dijadikan rujukan, sumber ilmu pengetahuan. Dan tidak lupa kami berterimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, sehingga tulisan sederhana ini dapat terwujud. Semoga Allah senantiasa meridloi setiap apa yang kita perbuat. Amien.




DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara: Jakarta, 1995.
Daryanto, Evaluasi Pendidikan Rineka Cipta: Jakarta, 2008.
Prinsip-Prinsip Evaluasi Dalam Pembelajaran, http://wakhinuddin.wordpress.com /2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/ diakses tanggal 28 Oktober 2010
Silverius, Suke, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik, Grasindo: Jakarta, 1991.


[1] Prinsip-Prinsip Evaluasi Dalam Pembelajaran, http://wakhinuddin.wordpress.com/2010/01/13/prinsip-prinsip-evaluasi-dalam-pembelajaran/ diakses tanggal 28 Oktober 2010
[2] Daryanto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), 19.
[3] Suke Silverius, Evaluasi Hasil Belajar dan Umpan Balik,(Jakarta: Grasindo, 1991), 11-12
[4] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 11.
DIPOSKAN OLEH UCANG ET DI 1:18 AM
LABEL: CONTOH MAKALAH

Jumat, 12 Desember 2014

ARSITEKTUR BASIS DATA

ARSITEKTUR BASIS DATA

Arsitektur Basis data merupakan suatu kumpulan data yang tersimpan secara sistematik dimana user dapat melihat data dan bagaimana cara user melihat data tersebut.Arsitektur ini juga berfungsi memberikan kerangka kerja bagi pembangunan basis data.

LEVEL ARSITEKTUR BASIS DATA


Menurut ANSI/SPARC, arsitektur basis data terbagi atas tiga level yaitu
1. Internal/Physical Level: berhubungan dengan bagaimana data disimpan secara fisik (physical storage). Internal level adalah level terendah untuk merepresentasikan basis data. Record disimpan dalam media penyimpanan dalam format byte. Didefinisikan sebagai sebuah skema internal.
Sebenarnya Level Fisik adalah level paling dasar (Paling Rendah) yang mengambarkan bagaimana data disimpan secara fisik
Contoh :
Kita mempunyai Data Pengawai. Pada Level Fisik data Pegawai dipandang dengan memperhatikan bahwa dalam data tersebut ada atribut Nama dan NIP yang disimpan pada media penyimpanan (Disk,Flash Disk dan Lain-Lain) sepanjang 30 byte.

2. External /View Level: berhubungan dengan bagaimana data direpresentasikan dari sisi setiap user. View level adalah level user, yang dimaksud dengan user adalah programmer, end user atau Database Administrator (DBA). (programmer : bahasa yang digunakan adalah bahasa pemrograman seperti C, COBOL, atau PL/I), (end user : bahasa yang digunakan adalah bahasa query atau menggunakan fasilitas yang tersedia pada program aplikasi pada level eksternal ini, user dibatasi pada kemampuan perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan aplikasi basis data yang didefinisikan sebagai sebuah skema eksternal.)
Level Ini merupakan level abstraksi data tertinggi yang mengambarkan hanya sebagaian saja yang dilihat dan digunakan dari keseluruhan database. Dikarenakan Pengguna database tidak membutuhkan semua isi database, setiap user mempunyai bahasa pemrograman yang sesuai dengan kebutuhannya yaitu :
· Programmer bahasa yang sering dipakai seperti VB,Delphi,C,Cobol,.Net atau PL/I
· End User bahasa yang dipakai adalah bahasa query

3. Conceptual/Logical Level: Yang menghubungkan antara internal & external level. Conceptual level adalah sebuah representasi seluruh muatan informasi yang dikandung oleh basis data.
Pada Level Ini mengambarkan data apa saja yang disimpan di dalam basis data dan hubungan relasi yang akan terjadi antara data dari keseluruhan basis data.Para Pengguna tidak memperdulikan kerumitan dalam struktur level fisk lagi, pengambaran cukup dengan mengunakan kotak,garis, dan hubungan secukupnya. Pada Level ini desainer basis data membuat rancangan dalam bentuk model(diagram-diagram) saja.

PEMETAAN


Conceptual/Internal Mapping yaitu pemetaan yang mendefinisikan hubungan antara level konseptual dan level internal. Pemetaan ini menjelaskan bagaimana record & field pada level konseptual direpresentasikan pada level internal.
External/Conceptual Mapping yaitu pemetaan yang mendefinisikan hubungan antara level eksternal dan level konseptual.

MODEL-MODEL DATA


Model data adalah sekumpulan tool konseptual untuk mendeskripsikan data, relasi-relasi antar data, semantik data & konsistensi konstrain.
Object-based logical models
Object base logical model terbagi atas beberapa model, yaitu:
1. Entity-relationship model
2. Object-oriented model
3. Semantic data model
4. Functional data model

Dua dari model di atas yaitu:
1. Entity-relationship Model E-R model didasarkan atas persepsi terhadap dunia nyata yang terdiri dari sekumpulan objek, disebut entity dan hubungan antar objek tersebut, disebut relationship. Entity adalah objek di dunia yang bersifat unik. Setiap entity mempunyai atribut yang membedakannya dengan entity lainnya.

2. Object-Oriented Model Model berorientasi objek berbasiskan kumpulan objek, dimana setiap objek berisi:
• Nilai yang disimpan dalam variabel instant, dimana variabel tersebut “melekat” dengan objek itu sendiri.
• Metode : operasi yang berlaku pada objek yang bersangkutan.
• Objek-objek yang memiliki tipe nilai & metode yang sama dikelompokkan dalam satu kelas. Kelas disini mirip dengan tipe data abstrak pada bahasa pemrograman.
• Sending a message : sebuah objek dapat mengakses data sebuah objek yang lain hanya dengan memanggil metode dari objek tersebut.
Record-based logical models
Terdapat beberapa model dalam kelompok ini :

1. Model Relasional ( Relational Model), Model relasional menggunakan kumpulan tabel-tabel untuk merepresentasikan data & relasi antar data tersebut.

2. Model Jaringan (Network Model ), Data dalam model jaringan direpresentasikan dengan sekumpulan record, dan relasi antara data direpresentasikan oleh record & link.

3. Model Hirarki (Hirarchical Model), Mirip dengan model jaringan. Data direpresentasikan dalam record dan link. Perbedaannya adalah, pada model hirarki record-record diorganisasikan sebagai tree (pohon) daripada graf. Model relasional berbeda dengan model jaringan & hirarki, dalam hal penggunaan pointer atau link.

Selain itu pada arsitektur data,terdapat Bahasa Basis Data. Bahasa Basis Data ini dibagi menjadi 3 bagian ,yaitu:
1. DDL(Data Definition Language)
DDL digunakan untuk mendefinisikan, mengubah, serta menghapus basis data dan objek-objek yang diperlukan dalam basis data, misalnya tabel, view, user, dan sebagainya.
DDL yang digunakan adalah CREATE untuk membuat objek baru, USE untuk menggunakan objek, ALTER untuk mengubah objek yang sudah ada, dan DROP untuk menghapus objek. DDL biasanya digunakan oleh administrator basis data dalam pembuatan sebuah aplikasi basis data.Jadi DDL digunakan ketika kita ingin membuat, mengubah, dan menghapus object pada database. oleh karena itu DDL lebih berhubungan pada object bukan pada isi atau data. kata-kata yang akan sering kita jumpai dalam DDL antara lain : Create, Use, Alter, dan Drop.

2. Data Manipulation Language (DML)
Data Manipulation Language (DML) adalah bahasa basis data yang berguna untuk melakukan modifikasi dan pengambilan data pada suatu basis data. Modifikasi data terdiri dari: penambahan (insert), pembaruan (update), penghapusan (delete), seleksi data (selection) dan membuat tabel maya (view).
Penambahan data (Insert) pada sebuah tabel:
Syntax:
INSERT INTO [(field1, field2, … fieldn)] VALUES
bisa berbentuk nilai tunggal atau berbentuk SQL query. Syarat dari , jumlah, urutan dan jenis datanya harus sama.
Contoh : insert into Mahasiswa (nrp, nama, alamat) values (’5105100234′, ‘Rayna’, ‘Surabaya’);
Pembaruan data (Update) pada sebuah tabel:
Syntax:
UPDATE SET = [,=, … =]
Contoh : update Mahasiswa set nama = ‘Rama’ where nrp = ’5105100234′ ;
Penghapusan data (delete) pada sebuah tabel:
Syntax:
DELETE FROM [WHERE ]
[Where ] sama seperti where yang dipelajari pada SQL.
Contoh : delete from Mahasiswa where nrp = ’5105100234′:

3. DCL(Data Control Language)
Merupakan pemberian otoritas/hak pakai atau perintah-perintah yang dapat digunakan untuk menjaga keamanan basis data.Perintah tersebut dapat dipakai untuk menentukan akses basis data hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu dan dengan macam akses yang dibatasi pula.Yang biasa digunakan pada DCL ini ada Grant(memberi hak) dan revoke(mengambil hak).